Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Showing posts with label Kelas XI. Show all posts
Showing posts with label Kelas XI. Show all posts

Tuesday, October 12, 2010

Kehidupan Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya pada Kerajaan yang Bercorak Islam di Indonesia

*) Kerajaan Demak
Mundurnya Kerajaan Majapahit memberikan kesempatan kepada para bupati yang berada di pesisir pantai utara Jawa untuk melepaskan diri, khususnya Demak. Faktor lain yang mendorong perkembangan Demak ialah letaknya yang strategis di jalur perdagangan Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur.

a. Kehidupan Politik
1) Raden Patah (1475–1518)
Dengan bantuan daerah-daerah lain yang masuk Islam, seperti Jepara, Tuban, dan Gresik, Raden Patah pada tahun 1475 berhasil mendirikan Kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Menurut Babad Tanah Jawa, Raden Patah adalah putra Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) dengan putri Campa. Raden Patah semula diangkat menjadi bupati oleh Kerajaan Majapahit di Bintoro Demak dengan gelar Sultan Alam Akhbar al Fatah.
Dalam upaya mengembangkan kekuasaan dan menguasai per- dagangan nasional dan internasional maka pada tahun 1513, Demak melancarkan serangan ke Malaka di bawah pimpinan Adipati Unus (Pangeran Sabrang Lor). Namun, serangan tersebut gagal. Di lingkungan kerajaan, para wali berperan sebagai pendamping dan sekaligus sebagai penasehat raja, khususnya Sunan Kalijaga. Ia banyak memberikan sa- ran-saran sehingga Demak berkembang menjadi mirip kerajaan teokrasi, yaitu kerajaan atas dasar agama.
http://32e16176.linkbucks.com
2) Sultan Trenggono (1521–1546).
Adipati Unus (1518–1521 ) menggantikan ayahnya (Raden Patah) untuk menjalankan roda pemerintahan. Ia lebih dikenal dengan nama Pangeran Sabrang Lor (gelar yang diterima sebab pernah mengadakan serangan ke utara/Malaka). Adipati Unus meninggal tanpa meningalkan putra sehingga seharusnya digantikan oleh adiknya, Pangeran Sekar Seda Lepen. Akan tetapi, pangeran ini dibunuh oleh kemenakannya sehingga yang menggantikan takhta Demak adalah adik Adpati Unus yang lain, yakni Pangeran Trenggono. Ia setelah naik takhta Demak bergelar Sultan Trenggono.
Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya. Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi Jawa Barat (Banten, Jayakarta, dan Cirebon), Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Tindakan-tindakan penting yang pernah dilakukan Sultan Treng- gono adalah sebagai berikut:
a) menegakkan agama Islam;
b) membendung perluasan daerah yang dilakukan oleh Portugis;
c) menguasai dan mengislamkan Banten, Cirebon, dan Sunda Kelapa (Perluasan ke wilayah Jawa Barat ini dipimpin oleh Fatahilah (Faletehan) yang kemudian menurunkan raja-raja Banten).
d) berhasil menakhlukkan Mataram, Singasari, dan Blambangan.
Sultan Trenggono gugur (1546) ketika berusaha menaklukkan Pasuruan. Wafatnya Sultan Trenggono memberi peluang kepada ketu- runan Pangeran Sekar Seda Lepen yang merasa berhak atas takhta Kerajaan Demak untuk merebut takhta. Tokoh ini ialah Aria Penangsang yang menjadi bupati di Jipang (Blora). Keluarga Sultan Trenggono dengan tokohnya Pangeran Prawoto berusaha untuk menggantikan ayahnya sehingga terjadi perebutan kekuasaan.
Perang saudara ini berlangsung selama beberapa tahun yang akhirnya memunculkan Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang
berasal dari Pajang, menaiki takhta
sebagai raja dengan gelar Sultan Hadiwi- joyo (1552–1575).
b. Kehidupan Ekonomi
Dilihat dari segi ekonomi, Demak sebagai kerajaan maritim, menjalankan
fungsinya sebagai penghubung atau transit daerah penghasil rempah-rempah di bagian timur dengan Malaka sebagai pasaran di bagian barat. Perekonomian Demak dapat berkembang dengan pesat di dunia maritim karena didukung oleh penghasil dalam bidang agraris yang cukup besar.
c. Kehidupan Sosial Budaya
Kehidupan sosial Demak diatur oleh hukum-hukum Islam, namun juga masih menerima tradisi lama. Dengan demikian, muncul sistem kehidupan sosial yang telah mendapat pengaruh Islam.
Di bidang budaya, terlihat jelas dengan adanya pembangunan Masjid Agung Demak yang terkenal dengan salah satu tiang utamanya terbuat dari kumpulan sisa-sisa kayu yang dipakai untuk membuat masjid itu sendiri yang disebut soko tatal. Di pendapa (serambi depan masjid) itulah Sunan Kalijaga (pemimpin pembangunan masjid) meletakkan dasar-dasar syaha- datain (perayaan Sekaten). Tujuannya ialah untuk memperoleh banyak
pengikut agama Islam. Tradisi Sekaten itu sampai sekarang masih berlangsung di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon.
Baca Selengkapnya===>

Monday, October 11, 2010

Perpaduan Tradisi Lokal, Hindu Buddha dan Islam dalam Institusi Sosial Masyarakat di Berbagai Daerah


Sebelum datangnya pengaruh Hindu–Buddha dan Islam, masyarakat Indonesia telah mengenal kehidupan religius yang dijadikan pedoman untuk bersikap dan berperilaku dalam kehidupannya. Hampir setiap kegiatan selalu dilandasi dengan upacara religius, baik dalam kegiatan mata pencaharian, adat istiadat perkawinan, tata cara penguburan, selamatan-selamatan (Jawa=slametan), maupun dalam kehidupan lainnya. Mereka patuh menjalankan pranata-pranata yang berbau religius dan magis tersebut karena mereka beranggapan bahwa apabila terjadi pelanggaran akan mendapatkan kutukan dari arwah nenek moyang yang dampaknya akan mendatangkan bencana terhadap warga masyarakatnya.

Tradisi kehidupan religius ini semula bentuknya masih sangat sederhana (sebelum pengaruh Hindu–Buddha merupakan tradisi lokal) sehingga ketika penga- ruh Hindu–Buddha masuk ke Indonesia, tradisi-tradisi lokal ini tidak musnah melainkan justru makin berkembang. Hal ini dikerenakan pengaruh Hindu–Buddha juga menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat setempat, hanya saja cara-cara dan upacara religusnya bersumberkan pada ajaran Hindu–Buddha.
Demikian juga ketika pengaruh Islam masuk juga ikut mewarnai kehidupan tradisi-tradisi yang ada di Indonesia. Segala aktivitas kehidupan masyarakat yang menganut agama Islam, bersumber pada ajaran agama Islam. Dengan demikian dari masa Purba sampai dengan masuknya pengaruh Islam, kehidupan tradisi-tradisi tersebut masih tetap berlangsung dan mendapat tempat sendiri-sendiri di kalangan masyarakat sesuai dengan kondisi daerah dan tingkat kepercayaan masyarakat yang bersangkutan. Bentuk-bentuk perpaduan antara tradisi lokal, Hindu–Buddha, dan Islam di dalam kehidupan masyarakat, antara lain sebagai berikut.

1. Pertunjukan Wayang

Salah satu bentuk tradisi warisan nenek moyang kita ialah pertunjukan wa- yang yang mampu bertahan berabad-abad lamanya dan mengalami perubahan serta perkembangan sampai dengan bentuknya yang sekarang. Fungsi pertun- jukan wayang sepanjang perjalanan sejarahnya tidaklah tetap dan bergantung pada kebutuhan tuntutan.
Pertunjukan wayang pada mulanya merupakan upacara pemujaan arwah nenek moyang. Setelah pengaruh Hindu-Buddha masuk maka pertunjukan wayang mengalami perkembangan. Pertunjukan wayang kemudian banyak
menyadur dari pengaruh Hindu-Buddha dengan mengambil cerita dari Mahabarata dan Ramayana. Ketika pengaruh Islam masuk, pertunjukan wayang makin berkembang dan ber- sumberkan pada ajaran agama Is- lam. Para Wali Sanga, khusus Sunan Kalijaga menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwah. Jadi, pertunjukan wayang di sam- ping sebagai sarana pendidikan, komunikasi, dan hiburan rakyat juga digunakan untuk menyebarkan agama Islam. Bahkan, sampai zaman modern sekarang ini dengan berbagai peralatan yang canggih, pertunjukan wayang masih tetap eksis sebagai sarana pendidikan, hiburan, dan komunikasi yang efektif untuk menunjang pem- bangunan.

2. Tradisi Garebeg dan Sekaten

Garebeg atau anggerebeg berarti pengawalan terhadap seorang pembesar yang penting, seperti seorang raja. Pada upacara tersebut Raja Yogyakarta dan RajaSurakarta menampakkan diri di Sitinggil dan dikelilingi oleh pengikut- pengikutnya (kerabat-kerabatnya) yang berada di Pagelaran untuk memberikan penghormatan kepada penguasa.
Upacara Gerebeg dilakukan tiga kali setiap tahun oleh Keraton Yogayakarta dan Keraton Surakarta, yaitu pada hari kelahiran Nabi Muhammad saw. (Gerebeg Maulud) pada tanggal 12 Maulud), hari raya Idul Fitri (Gerebeg Pasa) pada tanggal 1 Syawal dan hari raya Idul Adha (Gerebeg Besar) pada tanggal 10
Besar.Dari tiga Garebeg tersebut yang terbesar ialah Garebeg Maulud yang kemudian dirangkaikan dengan Se- katen.
a. Garebeg Maulud adalah pesta
yang diadakan untuk memperi- ngati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. pada tanggal 12
Rabiul Awal. Dalam hal ini ada
tiga macam perayaan, yakni, Sekaten (pasar malam), upacara Sekaten itu sendiri, dan Garebeg Maulud.

b. Perayaan Sekaten adalah perayaan yang berbentuk pasar malam yang biasanya berlangsung selama 1–2 minggu, bahkan 1 bulan sebelum upacara Gerebeg Maulud dilaksanakan.
Baca Selengkapnya===>

Tuesday, July 27, 2010

"Hindu atau Budha? Agama yang pertama masuk ke Indonesia"

Terdapat bukti yang kuat bahwa agama Buddha masuk ke Indonesia pada abad ke-2 Masehi, yakni dengan ditemukannya arca Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi Selatan). Arca Buddha ini, merupakan bukti tertua adanya pengaruh budaya India di Indonesia. Penemuan arca itu juga sangat penting sebab memberikan petunjuk kepada kita ke tinggian taraf hidup dan budaya rakyat Indonesia pada waktu itu.

Dilihat dari ciri-cirinya, arca tersebut diperkirakan berasal dari langgam Arca Amarawati, India Selatan (abad 2–5 SM). Ada kemungkinan bahwa arca ini merupakan barang dagangan atau mungkin juga barang persembahan sesuai bangunan suci agama Buddha. Arca sejenis juga ditemukan di Jember, Jawa Timur dan di Bukit Siguntang (Sumatra Selatan). Adapunn di Kutai, Kalimantan Timur ditemukan arca Buddha yang memperlihatkan arca seni Gandhara, India Utara.

Penemuan prasasti-prasasti di Kutai dari Raja Mulawarman dan prasasti- prasasti di Tarumanegara dari Raja Purnawarman menunjukkan adanya proses penghinduan. Huruf yang dipakai dalam prasasti-prasasti itu, ialah huruf Pallawa, dengan bahasa Sanskerta. Selain itu, Raja Mulawarman juga sering mengadakan upacara-upacara keagamaan dan mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Semuanya ini menunjukkan adanya pengaruh budaya dari India di Indonesia.

Pada abad ke-4 Masehi agama dan kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia. Prasasti-prasasti dari Kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara menunjukkan adanya proses penghinduan. Pada mulanya yang berkembang terlebih dahulu ialah agama Hindu baru kemudian agama Buddha (agama Buddha yang berkembang di Indonesia ialah agama Buddha Mahayana). Hal ini terbukti bahwa raja-raja pertama di Indonesia menganut agama Hindu, seperti Mulawarman dari Kerajaan Kutai dan Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Lama kelamaan kedua agama ini terus berkembang, silih berganti menjadi agama yang paling utama dalam negara. Setelah hidup berdampingan secara damai selama berabad- abad, kemudian terjadi sinkretisme di antara keduanya. Hasil sinkretisme tersebut menimbulkan suatu aliran agama baru yang dikenal sebagai agama Siwa- Buddha. Aliran ini berkembang dengan pesat pada abad ke-13 M. Penganut aliran ini, antara lain Raja Kertanegara dan Adityawarman.
Baca Selengkapnya===>

Monday, June 7, 2010

Rangkuman Materi Kelas XI IPS Semester 2

1. Dalam melakukan gerakan merkantilisme, negara-negara Eropa melakukan perlindungan dagang dengan mengenakan bea masuk yang sangat tinggi. Perencanaan ekonomi dilakukan dengan menerapkan kebijakan sebagai berikut:a) Meningkatkan pertambahan penduduk sebagai tenaga kerja industri, b)Meningkatkan perdagangan luar negeri, c) Berusaha mendapatkan logam mulia sebanyak-banyaknya, d) Melibatkan negara sebagai pengawas perekonomian, e) Mengembangkan industri berorientasi ekspor.

2. Faktor-faktor yang mendorong bangsa Barat mengadakan penjelajahan samudra ialah faktor ekonomi, jiwa petualangan, perkembangan iptek, dan agama. Penjelajahan samudra dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol.
3. Bangsa Portugis menempuh jalur penjelajahan kea rah timur karena adanya Perjanjian Tordesillas (1494) antara Spanyol dan Portugis. Berdasarkan perjanjian ini, bangsa Spanyol mendapatkan wilayah sebelah barat dari Kepulauan Cape Verde (sebelah barat Afrika), sedangkan bangsa Portugis mendapatkan wilayah sebelah timur.
4. Kedatangan Daendels ke Indonesia sebagai gubernur jenderal mempunyai dua tugas. Pertama, mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh
ke tangan Inggris. Kedua, memperbaiki keadaan tanah jajahan di Indonesia. Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels mengambil langkah-langkah kebijaksanaan. Tahukah Anda langkah-langkah tersebut?
1) membangun pangkalan angkatan laut di Merak dan Ujung Kulon;
2) mendirikan benteng-benteng pertahanan;
3) membuat jalan raya dari Anyer sampai dengan Panarukan;
4) mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya;
5) memperkuat pasukan yang anggotanya terdiri atas orang-orang Indonesia.

5. Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok menggali dana semaksimal mungkin untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar hutang, dan membiayai perang.
6. Bersamaan dengan makin meluasnya kekuasaan VOC, di pihak VOC sebenarnya mendekati keruntuhannya karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut.
1) VOC banyak mengeluarkan biaya baik untuk operasi-operasi militer
(menghadapi perlawanan rakyat) maupun untuk penyelenggaraan pemerintahan sehingga hutangnya menumpuk.
2) Banyak pegawai VOC yang mencari keuntungan pribadi dengan malakukan korupsi.

7. VOC yang didirikan pada tahun 1602, oleh pemerintah Kerajaan Belanda diberikan octrooi (hak istimewa) sebagai berikut.
a. Hak monopoli perdagangan.
b. Hak untuk memiliki tentara.
c. Hak untuk melakukan ekspansi ke Asia, Afrika dan Australia.
d. Hak untuk melakukan peperangan, membuat perdamaian, dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja yang dikuasainya.
e. Hak untuk mencetak uang.

8. Liberalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan individu dalam segala bidang. Menurut paham ini titik pusat dalam hidup ini adalah individu. Karena ada individu maka masyarakat dapat tersusun dan karena individu pula negara dapat terbentuk. Oleh karena itu, masyarakat
atau negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasan-
kemerdekaan individu. Setiap individu harus memiliki kebebasan- kemerdekaan, seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama.

9. Nasionalisme berasal dari kata nation (bahasa Inggris) atau natie (bahasa Belanda) yang berarti bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang diam di wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemauan untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita, dan tujuan. Dengan demikian, nasionalisme dapat diartikan sebagai semangat kebangsaan, yakni cinta terhadap bangsa dan tanah air. Dengan kata lain nasionalisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa kesetiaan tertinggi seseorang ditujukan kepada negara kebangsaannya.

10. Faktor yang mendorong timbulnya nasio- nalisme di Asia dan Afrika.
1. Penjajahan bangsa-bangsa Barat yang menimbulkan penderitaan dan kesengsa- raan.
2. Kenangan kejayaan masa lampau seba- gai negara yang jaya, seperti Indonesia pada masa kejayaan Sriwijaya dan Maja- pahit.
3. Munculnya kaum intelektual yang men- jadi penggerak dan pemimpin perge- rakan nasional.
4. Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905 yang mendorong bangsa-bangsa di Asia dan Afrika bangkit melawan penja- jahan bangsa-bangsa Barat.
Baca Selengkapnya===>

Monday, April 19, 2010

Revolusi Perancis


Amati gambar di samping! Lambang apa gambar di samping? Mengapa terjadi peristiwa seperti itu? Siapa yang menggerakkan peristiwa tersebut? Bagaimana hasil dari gerakan tersebut?

A. Revolusi Prancis


1. Situasi Sebelum Revolusi

a. Situasi Politik
Sejak Prancis diperintah oleh Raja Louis XIV (1643–1715) kekuasan raja menjadi besar dan tidak terbatas. Rakyat harus tunduk kepada kekuasaan raja dan tidak boleh menentang raja. Rakyat tidak boleh mempunyai pe- ngaruh sedikit pun dalam pemerintahan. Oleh karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat (Etats Generaux) kemudian dibubarkan. Raja Louis XIV terkenal dengan semboyannya L'etat c'est moi (negara adalah saya).
Raja Louis XIV hidup dalam kemewahan dan kemegahan. Ia mem- bangun Istana Versailles dengan menghabiskan biaya yang sangat besar. Padahal biaya itu diperoleh dengan memungut bermacam-macam pajak yang tinggi dari rakyat. Sudah barang tentu rakyat menjadi menderita dan membenci raja. Hal ini masih berlanjut pada masa pemerintahan Louis XV (1715–1774). Perasaan tidak puas dan benci kepada raja dan para bang- sawan makin lama makin meluas. Pada masa pemerintahan Raja Louis XVI (1774–1793), raja sudah tidak memiliki gezag (kewibawaan) dan kekuatan lagi. Hal itu disebabkan raja tidak berhasil memperbaiki keadaan. Situasi demikian memberi peluang yang sangat baik untuk meletusnya suatu revolusi.

b. Situasi Sosial Ekonomi
Masyarakat Prancis pada waktu itu terbagi menjadi tiga golongan. Golongan I terdiri atas para bangsawan. Golongan II terdiri atas ulama gereja/ pendeta.Golongan III terdiri atas rakyat biasa. Golongan I dan II hidup mewah dengan memiliki berbagai hak istimewa dan bebas dari pajak. Golongan III adalah rakyat yang hidup menderita dan dibebani berbagai macam pajak.
Dari golongan rakyat inilah kemudian muncul golongan baru yang disebut
Borjuis. Golongan inilah yang menjadi pelopor timbulnya Revolusi Prancis. Baca Selengkapnya===>

Friday, March 12, 2010

The Impact of Japan Occupation in Indonesia

1. The Impact in Politic
Japan prohibited Indonesian people to allied and to have group community since they occupied Indonesia. Therefore, they liquidated all movement organizations established on Dutch colonialism, except MIAI. MIAI then liquidated too and change into Masyumi.
The leader of national movement decided to have cooperative attitude during Japan colonialism era. By this attitude, they were able to have a position in organizations made by Japan, such as Gerakan 3A (3A Movement), Putera and Cuo Sangi In. Beside that, the movement national leaders were also made use of defensive units constructed by Japan, like Jawa Hokokai, Heiho, Peta, etc. The aim of Japan policy was to attract sympathy and mobilized Indonesian people to help Japan in war against allied forces. Nevertheless, this policy had been used by Indonesian leaders movement so that it has given more advantages to the Indonesian people struggle.
Thus, Japan has succeed to control activities of national movements, but they were not able to stop the increasing of nationality sense of Indonesian people to have freedom.

2. Economy
Japan tried to obtain and to dominate all raw resource for Japan war industry. Japan divided the plans into two step :
  1. Occupation step, that is to dominated all resource available, including what has belong to Dutch.
  2. Step to reconstruction economy area for war supplier. In accordance to this step, so that economy war design planned that every region has to apply autarki. (find out what is the meaning of autarki, and explain)
In 1944 the need of food and war increased rapidly. Japan has started a campaign of materials mobilization and increased the stocks of food. this was done by Jawa Hokokai and nagyo kumiai (Agriculture Cooperation), and other government institutions. The food mobilization was carried out by giving to the government the result of harvest. From harvest gathered, people own 40% and 30% must be given to the government, and the other 30% were store as seedling.
This policy has made Indonesian people suffered very much. Forest cutting has produce flood, harvest gathered submitted had made people lack of food, nutrient decrease, and stamina descend. As a result, there were many starvations happen in many regions, diseases spread out, and many death incidents. Moreover, the lack of clothing has been made many people in villages wore cloth from "gunny sack" or "bagor", even there were wore sheet of rubbers.
(to be continued........)

Baca Selengkapnya===>

Thursday, March 11, 2010

Indonesian Youth Congress

An effort to unity the youth inter organization was taken by carrying out a congress well known as Indonesian Youth Congress. Youth Congress I was carried out in Batavia on April 30th – May 2nd 1926. The congress was organized by a committee with the following composition :
Chairman : M. Tabrani
Vice chairman : Sumarto
Secretary : Jamaludin
Treasurer : Suwarso
Assistants : Bahder Johan, Sumarto, Yan Toule Soulehuwiy, Paul Pinontuan, Hamami, and Sanusi Pane
The goal of congress was to implant the spirit of cooperation among youth groups as a basic of Indonesian unity. There were many speech about the important of Indonesian unity performed in this congress. However, this effort was not successful yet because the sense of regionalism was still strong among the youth. Meanwhile, students from Batavia and Bandung analyzed there were two contradictive interests of colonialism which they called colonial antitheses that suffering Indonesian. The antitheses will disappear if the colonialism disappeared too. Therefore, students from others regions on September established Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) in Batavia. The PPPI’s goal was Indonesia freedom.
On 1928 the atmosphere of Indonesian politics has full of the sense of unity. The sense of nationality and the idea of Indonesian freedom have been reverberating in the soul of Indonesian youth. By initiative of PPPI the Youth Congress II was held and attending by delegation of youth organizations and have been succeed to decelerated a pledge known as “Sumpah Pemuda”. Youth Congress II carried out on 27 – 28 October 1928 with the composition of organization committee as follows:
Chairman : Sugondo Joyopuspito (from PPPI)
Vice chairman : Joko Mursid (from Jong Java)
Secretary : Muh. Yamin (from Jong Sumatranen Bond)
Treasurer : Amir Syarifuddin (from Jong Batak Bond)
Members : Johan Mohammad (from Jong Islamieten Bond), Senduk (from Jong Celebes), J. Leimena (from Jong Ambon), Rohyani (from Pemuda Kaum Betawi
The aims and goals of the Youth Congress II were:
a. To express of Indonesian Youth organization idea
b. To discuss about the of Indonesian Youth movement
        c. To strengthen the sense of nationality and to solidly the Indonesian unity

The content of Youth Declaration (Sumpah Pemuda) :
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia bertumpah darah satu, Tanah
Indonesia.
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia
menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Your Task :
1. Write down an articles (on one piece of paper) entitle “Dengan Semangat Sumpah pemuda Kita Tingkatkan Persatuan dan Kesatuan” !
2. Send your article via E-mail to: Hennymdo@gmail.com
3. The best article will be posted on this BlogSpot (don’t forget to enclosed your photo).






Baca Selengkapnya===>

Friday, January 15, 2010

The Colonialism and Imperialism in Indonesia

Generally, colonialism and imperialism have the same meaning that is to colonized and to occupy a region and a nation by another nation. Nevertheless, both system has its own background with different objective and implication.
Since the arising and the development of colonialism politics applied by the European countries, it is always has the same objectives, that is to exploit the natural resources of colonized region for their industry and to fulfill the glorious of the colonialist. They never pay attention to the prosperity and the education of the colonized. Therefore, the life of the people remind poor and suffering.
In the word we can say that colonialism is the political, social, economic, and cultural domination of a territory and its people by a foreign power for an extended time.
On the other hand, imperialism intended to construct new government in their colonized region. The colonized applied by making the colonized government and make deep influence to all aspects of the colonized region. One of the famous country successes applied this method is England.
Can you write down on your own word of the different between colonialism and imperialism?

When did the colonialism began in Indonesia? Baca Selengkapnya===>