Translator

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Tuesday, July 27, 2010

"Hindu atau Budha? Agama yang pertama masuk ke Indonesia"

Terdapat bukti yang kuat bahwa agama Buddha masuk ke Indonesia pada abad ke-2 Masehi, yakni dengan ditemukannya arca Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi Selatan). Arca Buddha ini, merupakan bukti tertua adanya pengaruh budaya India di Indonesia. Penemuan arca itu juga sangat penting sebab memberikan petunjuk kepada kita ke tinggian taraf hidup dan budaya rakyat Indonesia pada waktu itu.

Dilihat dari ciri-cirinya, arca tersebut diperkirakan berasal dari langgam Arca Amarawati, India Selatan (abad 2–5 SM). Ada kemungkinan bahwa arca ini merupakan barang dagangan atau mungkin juga barang persembahan sesuai bangunan suci agama Buddha. Arca sejenis juga ditemukan di Jember, Jawa Timur dan di Bukit Siguntang (Sumatra Selatan). Adapunn di Kutai, Kalimantan Timur ditemukan arca Buddha yang memperlihatkan arca seni Gandhara, India Utara.

Penemuan prasasti-prasasti di Kutai dari Raja Mulawarman dan prasasti- prasasti di Tarumanegara dari Raja Purnawarman menunjukkan adanya proses penghinduan. Huruf yang dipakai dalam prasasti-prasasti itu, ialah huruf Pallawa, dengan bahasa Sanskerta. Selain itu, Raja Mulawarman juga sering mengadakan upacara-upacara keagamaan dan mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Semuanya ini menunjukkan adanya pengaruh budaya dari India di Indonesia.

Pada abad ke-4 Masehi agama dan kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia. Prasasti-prasasti dari Kerajaan Kutai dan Kerajaan Tarumanegara menunjukkan adanya proses penghinduan. Pada mulanya yang berkembang terlebih dahulu ialah agama Hindu baru kemudian agama Buddha (agama Buddha yang berkembang di Indonesia ialah agama Buddha Mahayana). Hal ini terbukti bahwa raja-raja pertama di Indonesia menganut agama Hindu, seperti Mulawarman dari Kerajaan Kutai dan Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Lama kelamaan kedua agama ini terus berkembang, silih berganti menjadi agama yang paling utama dalam negara. Setelah hidup berdampingan secara damai selama berabad- abad, kemudian terjadi sinkretisme di antara keduanya. Hasil sinkretisme tersebut menimbulkan suatu aliran agama baru yang dikenal sebagai agama Siwa- Buddha. Aliran ini berkembang dengan pesat pada abad ke-13 M. Penganut aliran ini, antara lain Raja Kertanegara dan Adityawarman.
Baca Selengkapnya===>

Wednesday, July 21, 2010

"Sejarah Rupiah" (Bag. 1)

Pada periode 1945 -1949, ketika Jepang mengalami kekalahan dari sekutu, Belanda merancang untuk menjajah kembali Indonesia. Salah satu cara yang ditempuh Belanda adalah menguasai peredaran uang. Ada empat macam uang yang beredar pada masa itu, yaitu :
a. Uang yang tersisa dari zaman kolonial Belanda: De Javasche Bank.
b. Uang yaang sudah dipersiapkan Jepang dengan bahasa resmi Hindia Belanda bernama De Japansche Regering.
c. Uang pendudukan Jepang, yang menggunakan Bahasa Indonesia bernama Pemerintah Dai Nippon, adalah uang pecahan bernilai 100.
d. Dai Nippon Teikoku Seibu dengan pecahan 10 (bergambar Gatot Kaca) dan pecahan 5 (bergambar Rumah Gadang).

Pada tanggal 29 September 1945, pasukan Belanda pimpinan Dr. H.J. Van Mook mendarat di Tanjung Priok untuk melucuti dan memulangkan tentara Jepang yang kalah perang. Tanggal 6 Maret 1946 Belanda melarang tentaranya menerima uang Jepang, dan sebagai gantinya Belanda mengedarkan uang NICA (Netherlands Indische Civil Administration) yang dicetak di Australia tahun 1943 yang bergambar Ratu Wilhelmina. Belanda memaksakan uang ini sebagai alat pembayaran yang sah. Perdana Menteri Sutan Syahrir memprotes keputusan Belanda sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan RI dan mengingkari perjanjian untuk tidak mengeluarkan mata uang baru selama situasi politik belum stabil. Alat pembayaran ini menimbulkan kesulitan bagi masyarakat yang tinggal di daerah pendudukan seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, , Semarang, Palembang dan Medan. Masyarakat yang tinggal di daerah pendudukan menerima upah dalam bentuk uang NICA, sementara itu para petani (yang tinggal di luar daerah pendudukan) hanya menerima uang Jepang yang merupakan uang sah RI sebagimana dianjurkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

ketidakpercayaan terhadap uang NICA menyebabkan kursnya (nilai tukar) merosot terhadap mata uang Jepang. Harga barang di daerah pendudukan pun membumbung tinggi. Oleh karena uang Jepang tersedot ke daerah pedalaman tempat produksi kebutuhan sehari-hari. Di daerah ini juga terjadi inflasi tinggi dan diperburuk oleh sulitnya pendistribusian barang dari pedalaman ke daerah pendudukan.
(bersambung)
Baca Selengkapnya===>

Sunday, June 20, 2010

Sejarah Uni Emirat Arab

Negara-negara bagian (lebih dikenal sebagai emirat) di sepanjang pesisir pantai Teluk Persia memberikan hak pertahanan dan urusan luar kepada Kerajaan Britania Raya pada abad kesembilan belas. Pada tahun 1971, enam dari negara-negara bagian ini - Abu Dhabi, Ajman, Fujairah, Sharjah, Dubai, dan Umm al-Qaiwain - bergabung untuk mendirikan Uni Emirat Arab. Pada tahun 1972, Ras al-Khaimah menyertai mereka.

Politik
Majelis Tertinggi memuat pemerintah-pemerintah dari tujuh negara bagian. Jabatan Presiden dan Wakil Presiden dilantik oleh Majelis Tertinggi setiap lima tahun. Majelis Tertinggi juga melantik barisan kabinet sementara Majelis Federasi Kebangsaan yang mempunyai anggota sebanyak 40 orang dari ketujuh negara bagian meneliti dan membincangkan undang-undang yang dicadangkan. Terdapat satu sistem mahkamah persekutuan; semua negara bagian kecuali Dubai dan Ras al-Khaimah telah menyertai sistem persekutuan ini; semua negeri mempunyai undang-undang sekular dan Islam untuk kasus-kasus sipil, kejahatan, dan mahkamah tinggi.

Ekonomi
Kekayaan Uni Emirat Arab berdasarkan pengeluaran minyak dan gas yaitu 33% dari GDP negara itu. Emirat Arab adalah negara penghasil minyak ketiga terbesar di kawasan teluk setelah Arab Saudi dan Iran. Sejak 1973, Uni Emirat Arab telah mengalami perubahan dari negara kecil yang terletak di gurun menjadi negara modern dengan taraf kehidupan yang tinggi.

Wilayah
Emirat Arab memiliki 7 negara bagian:
• Abu Dhabi
• Ajman
• Dubai
• Fujairah
• Ras al-Khaimah
• Sharjah
• Umm al-Qaiwain

Geografi
Uni Emirat Arab terletak di barat daya Asia dan dikelilingi Teluk Oman dan Teluk Persia di antara Oman dan Arab Saudi. Ia adalah sebuah negara yang mempunyai dataran yang kering kerontang dan mempunyai padang pasir yang luas dengan gunung-gunung disebelah timur. Kedudukan strategisnya menjadikannya tempat persinggahan ekspor dan impor minyak dunia.
Perjanjian perbatasan di antara Uni Emirat Arab dan Arab Saudi pada tahun 1974 dan 1977 tidak pernah disebarkan kepada umum. Oleh itu perbatasan yang tepat untuk kedua negara hanya diketahui oleh pemerintahan masing-masing.

Demografi
Emirat Arab berpenduduk sebanyak 4 juta jiwa dan 1,6 juta jiwa yang bukan warganegara - dengan 50% darinya datang dari Asia Selatan. Kebanyakan masyarakat pribumi datang dari keturunan Persia. Tingkat pertumbuhan penduduknya rendah dibandingkan negara-negara tetangganya. Hampir semua rakyat di Uni Emirat Arab Muslim. Sekitar 80% penduduknya bisa membaca dan menulis.

Kebudayaan
Uni Emirat Arab mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan masyarakat Arab lain di seluruh dunia. Pemerintah berdedikasi untuk mempertahankan unsur-unsur tradisional dalam kesenian dan kebudayaan termasuk melalui Yayasan Kebudayaan Abu Dhabi. Perubahan dalam kehidupan sosial juga berubah - perasaan terhadap kaum wanita sedang berubah, dan olahraga-olahraga baru sedang terkenal di samping balap unta.
Baca Selengkapnya===>

Monday, June 7, 2010

Rangkuman Materi Kelas XI IPS Semester 2

1. Dalam melakukan gerakan merkantilisme, negara-negara Eropa melakukan perlindungan dagang dengan mengenakan bea masuk yang sangat tinggi. Perencanaan ekonomi dilakukan dengan menerapkan kebijakan sebagai berikut:a) Meningkatkan pertambahan penduduk sebagai tenaga kerja industri, b)Meningkatkan perdagangan luar negeri, c) Berusaha mendapatkan logam mulia sebanyak-banyaknya, d) Melibatkan negara sebagai pengawas perekonomian, e) Mengembangkan industri berorientasi ekspor.

2. Faktor-faktor yang mendorong bangsa Barat mengadakan penjelajahan samudra ialah faktor ekonomi, jiwa petualangan, perkembangan iptek, dan agama. Penjelajahan samudra dipelopori oleh bangsa Portugis dan Spanyol.
3. Bangsa Portugis menempuh jalur penjelajahan kea rah timur karena adanya Perjanjian Tordesillas (1494) antara Spanyol dan Portugis. Berdasarkan perjanjian ini, bangsa Spanyol mendapatkan wilayah sebelah barat dari Kepulauan Cape Verde (sebelah barat Afrika), sedangkan bangsa Portugis mendapatkan wilayah sebelah timur.
4. Kedatangan Daendels ke Indonesia sebagai gubernur jenderal mempunyai dua tugas. Pertama, mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh
ke tangan Inggris. Kedua, memperbaiki keadaan tanah jajahan di Indonesia. Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels mengambil langkah-langkah kebijaksanaan. Tahukah Anda langkah-langkah tersebut?
1) membangun pangkalan angkatan laut di Merak dan Ujung Kulon;
2) mendirikan benteng-benteng pertahanan;
3) membuat jalan raya dari Anyer sampai dengan Panarukan;
4) mendirikan pabrik senjata di Semarang dan Surabaya;
5) memperkuat pasukan yang anggotanya terdiri atas orang-orang Indonesia.

5. Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok menggali dana semaksimal mungkin untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar hutang, dan membiayai perang.
6. Bersamaan dengan makin meluasnya kekuasaan VOC, di pihak VOC sebenarnya mendekati keruntuhannya karena beberapa faktor, antara lain sebagai berikut.
1) VOC banyak mengeluarkan biaya baik untuk operasi-operasi militer
(menghadapi perlawanan rakyat) maupun untuk penyelenggaraan pemerintahan sehingga hutangnya menumpuk.
2) Banyak pegawai VOC yang mencari keuntungan pribadi dengan malakukan korupsi.

7. VOC yang didirikan pada tahun 1602, oleh pemerintah Kerajaan Belanda diberikan octrooi (hak istimewa) sebagai berikut.
a. Hak monopoli perdagangan.
b. Hak untuk memiliki tentara.
c. Hak untuk melakukan ekspansi ke Asia, Afrika dan Australia.
d. Hak untuk melakukan peperangan, membuat perdamaian, dan mengadakan perjanjian dengan raja-raja yang dikuasainya.
e. Hak untuk mencetak uang.

8. Liberalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan individu dalam segala bidang. Menurut paham ini titik pusat dalam hidup ini adalah individu. Karena ada individu maka masyarakat dapat tersusun dan karena individu pula negara dapat terbentuk. Oleh karena itu, masyarakat
atau negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasan-
kemerdekaan individu. Setiap individu harus memiliki kebebasan- kemerdekaan, seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama.

9. Nasionalisme berasal dari kata nation (bahasa Inggris) atau natie (bahasa Belanda) yang berarti bangsa. Bangsa adalah sekelompok manusia yang diam di wilayah tertentu dan memiliki hasrat serta kemauan untuk bersatu karena adanya persamaan nasib, cita-cita, dan tujuan. Dengan demikian, nasionalisme dapat diartikan sebagai semangat kebangsaan, yakni cinta terhadap bangsa dan tanah air. Dengan kata lain nasionalisme adalah suatu paham yang menyatakan bahwa kesetiaan tertinggi seseorang ditujukan kepada negara kebangsaannya.

10. Faktor yang mendorong timbulnya nasio- nalisme di Asia dan Afrika.
1. Penjajahan bangsa-bangsa Barat yang menimbulkan penderitaan dan kesengsa- raan.
2. Kenangan kejayaan masa lampau seba- gai negara yang jaya, seperti Indonesia pada masa kejayaan Sriwijaya dan Maja- pahit.
3. Munculnya kaum intelektual yang men- jadi penggerak dan pemimpin perge- rakan nasional.
4. Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905 yang mendorong bangsa-bangsa di Asia dan Afrika bangkit melawan penja- jahan bangsa-bangsa Barat.
Baca Selengkapnya===>

Tuesday, April 20, 2010

Kartini Sang Pembebas

oleh: Prof. Dr. Hj. Redatin Parwadi, MA.
Setiap tahun pada tanggal 21 April, perhatian kita tertuju pada sosok perempuan yang cantik, ayu, cerdas dan mempunyai nilai juang yang sangat tinggi. Perempuan tersebut pembawa perubahan bukan saja bagi perempuan, tetapi bagi bangsa Indonesia pada umumnya. Bagaimana tidak, pada saat Nusantara dibelenggu penjajah, muncul perempuan pahlawan terkenal yang memperjuangkan kesetaraan dan kebebasan. Sosok perempuan pejuang yang dengan daya fikir luas dan kemampuan korespondensi tinggi, berontak terhadap belenggu adat istiadat, tradisi, budaya yang merendahkan martabat perempuan Indonesia. Perempuan ini telah menjadi inspirator bagi setiap perempuan dalam membantu kaum perempuan lainnya, untuk maju sejajar dengan kaum laki-laki. Menjadi motivator bagi setiap perempuan, untuk meningkatkan harkat dan martabatnya. Sosok perempuan tersebut adalah Kartini atau nama lengkapnya Raden Adjeng Kartini (Raden Ajoe Kartini) yang lahir di Jepara, pada 21 April 1879, anak seorang bupati Jepara R.M. Sosroningngrat, bersuami Raden Adipati Joyodininrat, bupati Rembang (Jawa Tengah), meninggal 17 September 1904.
Kartini adalah sosok otodidak (belajar mandiri). Dengan kegemarannya membaca dan ditunjang kemampuan berbahasa Belanda, walaupun hanya berpendidikan sekolah dasar, Kartini mampu menulis (berkorenpondensi) dengan kawan-kawannya. Surat-surat Kartini jumlahnya ratusan, namun yang dihimpun oleh Armin Pane berjumlah 87 surat dan yang dihimpun oleh Ny.RM. Abendanon dalam Door Duisternis tot Licht berjumlah 108 surat. Surat-surat Kartini, pada umumnya mengungkapkan perjuangan melawan adat istiadat, tradisi dan budaya, yang tidak memungkinkan kemajuan bagi kaum perempuan khususnya. Berkat perjuangannya, saat ini telah lahir kartini-kartini yang mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kaum laki-laki. Meskipun telah lahir kartini-kartini baru yang berhasil, dan mampu menjadi penggerak bagi kaum perempuan lainnya, namun perjuangan kartini kartini sekarang, belum selesai. Masih memerlukan waktu panjang dan mungkin tanpa akhir. Hal ini karena, masih banyak kaum perempuan yang masih tertinggal dan terbelenggu baik oleh budaya dan perempuan itu sendiri, juga oleh tekanan lelaki. Belenggu laki-laki terhadap perempuan masih terasa, hanya bentuknya berbeda dikala Kartini berada, dengan sekarang di era modern. Belenggu ini akan terus berlangsung manakala di masyarakat masih terkontruksi (pemikiran), tentang keberadaan dan peran perempuan yang masih dianggap rendah, sebagai warga kelas dua. Kondisi demikian memperkuat terjadinya ketimpangan gende dan ketidak adilan gender. Dibidang politik, telah terjadi ketimpangan yang menyolok. Beberapa pemilu legislatif, peran dan kedudukan perempuan dalam legislatif sangat rendah. Bahkan wacana memperjuangkan keterwakilan perempuan 30% di legislatif belum pernah terwujud. Prosentase keterwakilan perempuan tidak lebih 11% (DPR pusat), adapun untuk provinsi, kabupaten kota tidak lebih 7%. Angka ini dibawah rata-rata Asia Tenggara 12,7%. Sekedar perbandingan, pemilu di Pakistan mencadangkan keterwakilan perempuan 17% dari 342 kursi parlemen, di Perancis mensyaratkan setiap parpol menyertakan 50% caleg perempuan. Perjuangan menegakkan emansipasi terus berlanjut, dan akan terus menyuarakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Namun sampai kapanpun, perbedaan hakiki kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan tidak mungkin berakhir. Tidak dapat disangkal bahwa peran biologis perempuan seperti melahirkan dan menyusui, tidak dapat digantikan oleh laki-laki. Perbedaan sunatulloh ini akan berlangsung terus dan akan berpengaruh terhadap peran perempuan. Banyak perempuan yang telah menjadi pemimpin pemerintahan, politikus yang mewakili rakyat, menjadi pelopor/agen pembangunan, aktivis lembaga masyarakat dan lain-lain, tokh peran biologis perempuan yang kadang-kadang membatasi aktivitasnya tetap saja ada dari jaman Kartini sampai sekarang. Jika Raden Ayu Kartini masih hidup, tentu sangat bangga melihat kaumnya dapat berperan dalam menentukan nasib bangsa. Tetapi sebaliknya jika Kartini melihat bagaimana perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tidak sekolah karena ketiadaan biaya, buta aksara, banting tulang mencari nafkah, pernikahan di bawah umur, pelecehan seksual, meninggal saat melahirkan dan lain-lain penderitaan, tentu Kartini menangis sangat sedih, menyesalkan perjuangannya belum membuahkan hasil optimal. Memang, Kartini hidup dalam jaman yang berbeda dengan kita yang ada sekarang.Tentu kita yang hidup sekarang, tidak perlu larut dalam kesedihan Kartini dimasa lalu. Kartini diperisteri dengan seorang yang pernah mempunyai tiga isteri, merasakan pingitan hanya untuk menunggu pinangan dan kemudian kawin, pupus sudah harapan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Walaupun Kartini anak bupati, namun Kartini hanya menamatkan sekolah tingkat dasar (Europese Legere School). Kartini hidup di jaman penjajahan yang serba terkekang baik oleh lingkungan keluarga maupun pemerintahan kolonial. Tentangan kaum pribumi yang hebat, memaksa penjajah melakukan politik etis dengan berpura-pura manis terhadap pribumi dengan tujuan mengurangi tensi perlawanan pribumi. Kesempatan Kartini dan saudaranya untuk sekolah guru di Batavia (walau batal), lebih karena prioritas keduanya sebagai anak pejabat. .Melihat kondisi tanah air yang demikian, membuat Kartini secara psikologis dan sosiologis berontak untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Pantas kiranya atas perjuangannya, Presiden Soekarno (atas nama pemeritah) dengan Keputusan Presiden No.108 Tanggal 2 Mei 1964, menganugerahi Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Memang Kartini berjuang tidak secara fisik mengangkat senjata, tetapi pengorbanan dirinya dan perjuangan pemikirannya terhadap bangsa ini, khususnya kaum perempuan menjadi sesuatu yang luar biasa. Tentu kita berfikir, begitu tekanan penjajah yang demikian kasar tidak memberikan kesempatan kepada pribumi, muncul sosok Kartini yang berfikir memajukan bangsa melalui pendidikan. Di era tahun lima puluhan sampai enam puluhan hampir disetiap kota, lahir Sekolah Kartini, yang merupakan monumen sejarah perjuangan Kartini. Setelah lebih 100 tahun dari kehidupan era Kartini dan Indonesia merdeka 65 tahun, timbul pertanyaan, masih relevankah membicarakan perjuangan Kartini?. Ada dua jawaban. Pertama, jika tidak tahu sejarah dan masa bodoh terhadap hari depan bangsa, kemungkinan menyatakan tidak relevan. Tetapi, yang paham sejarah bagaimana pengorbanan Kartini untuk memajukan bangsanya, dengan tegas menyatakan sangat relevan. Dalam kondisi multi krisis yang dialami bangsa Indonesia, terpinggirkannya ideologi dan falsafah hidup bangsa, semakin memudarnya jati diri bangsa, tentunya semangat Kartini harus terus menerus dikobarkan. Tidak masuk akal, Indonesia yang kaya akan sumber daya (alam dan manusia) tergolong bangsa miskin didunia, bahkan dilingkungan Asia dan Asean sekalipun. Negara serumpun yang pada tahun enan-tujuh puluhan belajar sama kita, sekarang keadaanya terbalik, kitalah yang belajar dari mereka dalam beberapa hal. Lalu apa yang salah di negeri ini? Kita lupa sebagai bangsa besar, tetapi merasa kecil karena sederet predikat yang menyakitkan. Sebutan negara paling korup, negara penuh markus, tidak bangga dan kurang hormat atas bangsa sendiri, royal dan konsumeristik, tidak produktif, suka berkelai antar sesama, tidak taat hukum, kualitas penduduk rendah, kejam dan sebutan lain-lain. Sakitnya bangsa ini, harus diobati. Marilah kita menengok prinsip dasar perjuangan Kartini untuk dijadikan penggugah motivasi bangsa. Banyak versi tulisan-tulisan atau surat-surat Kartini yang dapat dijadikan motivasi perjuangan bangsa. Misalnya yang terhimpun dalam Door Duiternis tox Licht, jika diterjemahkan Dari Kegelapan Menju Cahaya (Mr. J.H Abendanon,1911), Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (Balai Pusaka,1922), Habis Gelap Terbitlah Terang (versi Armijn Pane, 1938), juga pernah diterbitkan dalam bahasa Inggris (Agnes L.Symmers), dan Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 (oleh Joost Cote). Demikian juga surat-surat Kartini pernah diterbitkan dalam bahasa Jawa dan Sunda. Jika disimak secara mendalam tulisan (surat) Kartini, kesemuanya didasari atas Ketuhanan, Kebijaksanaan, Keindahan, Perikemanusiaan, dan Nasionalisme. Bidang-bidang perjuangan Kartini lebih banyak diterapkan pada kesetaraan (emansipasi), pendidikan, keluarga sebagai institusi awal pendidikan. Konsep pembangunan bangsa menurut Kartini adalah bahwa kemajuan bangsa pada umumnya dapat dicapai dengan pendidikan. Adapun khusus perempuan, melalui pendidikan dapat dicapai kesetaraan dan kemandirian. Jika kita lihat secara utuh pemikiran Kartini bukan saja ditujukan kaum perempuan, tetapi terhadap bangsa Indonesia yang kala itu sedang dijajah. Kartini dengan pemikirannya ingin mendobrak adat istiadat, budaya yang membelenggu perkembangan perempuan dan keluarga, serta membebaskan tanah air dari penguasaan bangsa asing. Alur pemikiran dan perjuangan Kartini mengalir dalam setiap gerakan perjuangan bangsa, misalnya telah mengilhami berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, sampai Soempah Pemoeda tahun 1928, dan seterusnya. Boedi Oetomo (BO) adalah organisasi kemasyarakatan sebagai bentuk perlawanan damai terhadap penjajah melalui pendidikan. Belajar dari pengalaman negara maju bahwa kemajuan dan keberhasilan pembangunan suatu negara lebih ditentukan oleh sumber daya manusia yang berkulitas, maka pendidikan menjadi prioritas penting. Bagaimana akan mengejar negara-negara maju, jika kualitas sumber daya manusia Indonesia masih tergolong rendah (sekitar 64% penduduk hanya lulus Sekolah Dasar). Perjuangan bangsa Indonesia masih panjang, marilah merenung sejenak akan sosok Kartini sebagai salah satu Pejuang Kemerdekaan Nasional. Mudah-mudahan pengorbanan dan semangatnya, mengilhami kartini-kartini modern untuk mengembangkan dan memenej dirinya, sebagai bekal untuk mendobrak melepaskan diri dari ketertinggalan dan kemiskinan, tanpa harus meninggalkan kodratnya. Selamat ber- Hari Kartini. Baca Selengkapnya===>